Mengintip Pemberdayaan Gangguan Jiwa di Yayasan Galuh Bekasi

  • Redaksi
  • 16 Agustus 2017
  • 25

Kabartiga.com, Bekasi – Apa yang akan anda lakukan saat menjumpai seorang penderita gangguan jiwa? Yang terlontang lantung di jalanan dan kadang tak berpakaian? Jawaban anda bisa jadi retoris; “kasihan”! Atau mungkin secara spontan anda akan mengeluarkan ekspresi kejijian; “ihh”! Faktanya, sebagian besar orang menganggap mereka tidak berarti. Sehingga tidak aneh, orang-orang tersebut akan lebih memilih sikap acuh dan tak peduli dengan kondisi mereka.



Datanglah ke Yayasan Galuh, maka anda akan menyaksikan sebuah fenomena lain, yang mungkin bisa menampar kesadaran anda,  dimana para penderita gangguan jiwa diberdayakan, diayomi, dan dibina dengan baik. Berlokasi di Kampung Sepatan, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi.



Yayasan Galuh adalah tempat rehabilitasi para penderita disabilitas. Berbagai kegiatan untuk para pasien dikemas secara menarik dan rapih oleh pengurus Yayasan. Mengawali hari, para pasien secara rutin melaksanakan sholat subuh berjamaah, bagi yang muslim. Kemudian setelah itu, seluruh pasien diwajibkan minum segelas air putih (water treatment). Lalu mereka akan melaksanakan olahraga pagi, dan di siang harinya, pengurus menyiapkan ragam kegiatan, seperti trapi kreatif (membuat kerajian tangan), pengajian kerohanian, pengusiran halusinasi, dan kegiatan yang berfungsi membangun keakraban antara satu dan lainya.



Sekertaris Yayasan Galuh, Nina Mardina mengatakan, jumlah pengurus saat ini ada 44 orang, ditambah dengan Warga Binaan Sosial (WBS) yang telah sembuh, sebanyak 40 orang, jadi total 84 orang ambil bagian mengurus dan membantu proses penyembuhan para penderita ganguan kejiwaan.    



Berdasarkan informasi yang juga disampaikan Nina, jumlah pasien penderita disabilitas di Galuh mencapai 413 orang. Jumlah tersebut diakui Nina, telah melampau kapasitas tempat yang sejatinya hanya bisa menampung 400 pasien.



“Kita ga bisa nolak jika ada pesien yang mau masuk, meskipun kenyataannya tempat kita udah over loaded. Kita takut kalo mereka ga diterima di sini, mereka bisa dibuang di jalanan. Biasanya begitu,” terang Nina kepada Kabartiga.com saat dijumpai di kantornya, Senin (14/8/2017).



Nina mengaku pernah tersinggung, ketika mendengar informasi yang menyebut banyak warga Bekasi yang menderita gangguan jiwa terdampar di Karawang, menurutnya itu tidak betul.



“Ada yang bilang banyak orang gila asal Bekasi di Karawang, saya bilang ga mungkin. Penderita gangguan jiwa asal Bekasi pasti akan ditempatkan di sini, kami tidak pernah menolak warga Bekasi,” tegas Nina.  



Dari total 413 pasien, Nina menyebut, 50% adalah warga Bekasi. Sedangkan sisanya berasal dari beberapa daerah lainya di Indonesia. Sedangkan klasifikasi pasien yang keluarganya dikenali dan tidak, jumlahnya relatif berimbang, .



“50% pasien kita berasal dari Bekasi, sisanya dari macem macem daerah, bahkan ada yang dari Kepulauan Kepri, Riau. Pasien yang keluarganya dikenali dan tidak juga berimbang, fifty-fifty,” jelas Nina.



Pengurus yayasan juga berharap, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi dapat sekali-kali menengok kegiatan yang ada di Panti Rehabilitas Yayasan Galuh ini.



"Ya kita sih berharap, Pak Wali dapat berkunjung kesini, banyak sekali yang ingin kami sampaikan," ungkap Nina.



Editor : Amar Faizal Haidar



Disarankan untuk anda