Manuver Nusron Wahid

  • Faisal
  • 20 Agustus 2017
  • 419
  • Bagikan:
Manuver Nusron Wahid Pengamat Sosial Politik, Hendra Januar

Oleh: Hendra, Pengamat sosial politik 



Kalau Anda berpikir Golkar sudah mengunci nama calonnya untuk Pilgub Jabar 2018, itu wajar. Pasalnya, Dedi Mulyadi hampir dipastikan maju ke gelanggang perang lewat pintu Golkar. Alasannya sederhana: fakta menyebut Dedi Mulyadi adalah tokoh yang cukup populer, punya kapasitas dan berprestasi. Barangkali bukan hanya Anda, mayoritas kader Golkar khususnya di Jawa Barat dengan mudah bisa memprediksi itu.



Bagaimana jika ada kader Golkar yang mengatakan sebaliknya, Anda terkejut bukan? Dialah Nusron Wahid. Sebagai Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Jawa-Sumatra, tentu saja setiap pernyataannya bukan sekadar iseng atau membual. 



Menurut keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, jumat kemarin, Nusron mengakui Golkar telah mengusung Dedi Mulyadi maju di Pilgub Jabar 2018. Tapi, menurutnya, itu bukan “final decision”. Dalam dunia politik, konstalasi bisa berubah kapan pun. Seperti ada pepatah “politic flows on unnecessary power”, yakni politik mengalir di atas ketidakpastian kekuatan. 



Meraba Musabab Nusron 



Saya tidak tahu “siapa” yang punya hak primer untuk memberi tiket kepada calon yang diusung. Namun, kalau seorang Nusron mengatakan demikian, tentu saja ada intrik di balik statemen yang cukup membingungkan itu. Perlu diingat, Nusron seorang politisi dan setiap pernyataan seorang politisi selalu mewakili kenyataan di balik layar. 



Setiap orang boleh menafsirkan apa pun atas pernyataan Nusron itu. Saya pun bebas membacanya dalam kacamata sendiri. Dengan berusaha melihat secara netral, tanpa ada kecenderungan memihak ini dan itu. So, bisa jadi, setidaknya ada empat kemungkinan yang bisa didapat: 



Pertama, Nusron secara pribadi punya calon lain selain Dedi Mulyadi. Dengan posisi sebagai Koordinator Pemenangan Golkar, dia punya ruang untuk menyelipkan agenda pribadinya. Dan itu, tentu saja, akan membuat dapur Golkar semakin “semberawut”. Orang di luar Golkar serentak tertawa, bertepuk tangan dan jika ada kesempatan malah akan mendukung momentum kaotik Golkar. 



Sepertinya, jika dilihat dari statemen Nusron, dia cenderung lebih mendukung Ridwan Kamil (Kang Emil). Walaupun, umum diketahui, Kang Emil sudah diikat partai NasDem yang tengah membujuk tiga partai lainnya ( PAN, PKB dan PAN) untuk membangun koalisi. Dus, Nusron seakan menentang konsensus umum kader Golkar yang belakangan setuju untuk memberi tiket kepada Dedi Mulyadi. 



Kedua, Nusron sedang menaikkan “mahar politik” (cost politik). Maksudnya, Dedi Mulyadi perlu menawarkan lebih dari sekedar uang, tapi perlu menawarkan hal lain yang menarik serta menggairahkan sang pemberi tiket. Jeda waktu yang belum menentu membuat Nusron gerah dengan “keseriusan” Dedi Mulyadi yang tak kunjung memperjelas daya tawar politik (political bargaining). Itu pun kalau memang dia punya pengaruh besar untuk memberi rekomendasi dari Golkar. 



Jika tidak demikian, lahir kemungkinan ketiga: Nusron ingin terlibat sebagai pemberi tiket. Maksudnya, dia ingin diberikan “titah” untuk ikut menentukan siapa yang layak diusung Golkar. Kalau dalam serial “Godfather”, Nusron ini seperti “Tom Hagen” yang menjadi operator lapangan, tangan kanan “Don Corleone”. Dia ingin dilihat punya daya tawar di dalam lingkaran internal partai Golkar. 



Kemungkinan terakhir, walau pun ini akan terlihat konyol, tapi harus saya sampaikan bahwa: Nusron memang sedang “iseng”. Tetapi bukan tanpa tujuan, dia ingin melihat reaksi seluruh permukaan politik menjelang Pilgub ini. Atau dalam istilah kawan-kawan aktivis, dia sedang “cek ombak”. Pertanyannya untuk apa? Tentu saja, untuk tahun sejauh mana dukungan terhadap Dedi Mulyadi. Dan diukur oleh seberapa banyak dan besar protes padanya. 



Di atas semua yang saya tulis di atas, perlu diingat, ini hanya spekulasi. Namun jika salah satu dari ketiga kemungkinan itu benar, lalu lintas politik akan semakin menarik. Jika semua kemungkinan itu keliru, maka kita akan semakin mudah membaca alur sebenarnya. Seperti, kalau kita ingin tahu yang benar, bukankah cukup untuk tahu salahnya?



Disarankan untuk anda