Rahasia Di Balik Tombol Nuklir Trump
Presiden Amerika Serikat, Donnald Trump (foto:ist).
Kabartiga.com, Dunia – “Saya juga memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih berbahaya,” begitulah bunyi penggalan kalimat dari cuitan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat pada akun twitternya @RealDonaldTrump. Isu tentang kepemilikan tombol nuklir yang sedang santer dibicarakan Donald Trump dan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un masih seputar adu mulut saja.
Padahal bentuk asli tombol nuklir yang dielu-elukan Trump, bukan tombol merah yang diilustrasikan banyak orang tersimpan tepat di tengah meja kerja orang nomor satu di Amerika itu. Usut punya usut, dikutip dari Vox, Trump memiliki sesuatu bernama ‘nuclear football’ atau ‘bola sepak nuklir.’ Bentuknya adalah sebuah koper kecil berbahan alumunium seberat 18 kilogram.
‘Bola’ ini selalu berada di samping Presiden dan dibawa oleh seorang anggota militer. Tak hanya ‘bola’, Presiden juga selalu membawa barang yang disebut ‘biskuit’ yang ternyata adalah sebuah kartu berisi kode verifikasi yang berarti perintah untuk segera meluncurkan nuklir ke udara.
Jadi tombol itu hanya merupakan simbol bahwa dirinya bisa kapan saja memberikan perintah peluncuran nuklir. Karena dia Presiden, maka tidak perlu ada persetujuan siapapun termasuk anggota senat dan kongres. Malah, tim militer yang bertugas harus segera melancarkan perintah tersebut, yaitu membidikkan nuklir ke titik tertentu sebagai bentuk serangan.
Sayangnya, masalah dan ancaman nuklir yang selama ini terjadi antara Amerika dan Korea masih jadi bahan perbincangan hangat di antara petinggi militer. Perintah peluncuran nuklir suatu waktu bisa dianggap ilegal dan tak ada petugas yang mau menanganinya. Jika benar seperti itu, Trump harus memastikan ada orang yang mau melakukan tugas berat itu.
Proses peluncuran nuklir ini dimulai dari keinginan Trump terlebih dahulu. Setelah itu koper yang disebut ‘football’ akan dibuka. Isinya adalah macam-macam nuklir yang bisa ia pilih, sesuai kebutuhan dan daya luncur. Setelah itu, Trump wajib berdiskusi dengan kepala operasioan Pentagon. Jika sudah lapor, Trump perlu berdiskusi dengan ahli militer serta ahli warga negara.
Barulah perintah resmi keluar dan kru akan menyiapkan peluncuran. Perlu digaris bawahi, kru yang bertugas tidak berhak bertanya, hanya menjalankan perintah. Terakhir, jika semua pihak setuju maka nuklir bisa diluncurkan ke arah musuh. Jarak perintah dan peluncuran bisa dicapai selama lima belas menit saja, jika nuklir diluncurkan dari kapal selam. Jadi, bukan tombol nuklir otomatis ala film perang Hollywood, tapi serangkaian prosedur yang sebenarnya cukup mudah untuk dijalankan Trump seorang.
Konflik antara Amerika dan Korea Utara dimulai tak lama sejak Trump dilantik pada Januari 2017. Salah satu aksi yang paling mengundang perhatian publik terjadi pada bulan November saat Angkatan Laut Amerika bergabung dengan militer Cina berlabuh dan dia dilepas di perairan Korea. Dua negara itu pula telah berkali-kali meluncurkan misil percobaan sebagai aksi unjuk gigi dan memperlihatkan kekuatan masing-masing.
Reporter: AFN
Editor: Amar Faizal Haidar