HMI Minta Generasi Milenial Tidak Dijadikan Komoditas Politik
Saddam Al Jihad Hadiri Pelantikan HMI Cabang Bekasi Periode 2019-2020
BEKASI – Suara generasi milenial menjadi salah satu faktor penentu yang paling banyak diperebutkan dalam kontestasi pemilu, baik pilpres maupun pileg di tahun 2019 kali ini. Setiap kontestan terus berupaya menarik simpati generasi milenial dengan berbagai strategi.
Meski demikian, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Saddam Al Jihad mengingatkan agar para politisi tidak sekedar melihat generasi milenial sebagai komoditas politik. Karena kata dia, hal itu sama saja mengkerdilkan generasi milenial.
"30 persen generasi milenial ada di pilpres kali ini. Kalau generasi milenial hanya sebagai komoditas politik, maka itu merupakan pengkerdilan terhadap geberasi milenial," tegasnya.
Sebagai organisasi yang yang mewadahi generasi milenial, HMI berharap Pemerintah mendatang mampu secara aktif melibatkan generasi milenial di dalam proses pembangunan bangsa. Baik itu dilevel masyarakat sipil, korporasi bahkan di Pemerintahan itu sendiri.
"Kedepan ini yang harus kita kawal sebetulnya adalah society 5.0, bukan soal revolusi industri 4.0 aja. Artinya ada konektifitas antar generasi. Oleh karena itu gagasan kami kedepan adalah Youth Government (Pemerintahan Pemuda)," terang Saddam.
"Siapapun Presidennya, harus diisi 30 persen anak-anak generasi milenial. Karena 30 persen pemilih milenial ada di pilpres hari ini. Kalau mereka hanya dijadikan sebagai komoditas politik maka itu adalah bentuk pengkerdilan," sambungnya.
Gagasan Pemerintahan Pemuda akan terus menjadi desakan HMI kepada para penguasa yang akan memimpin Indonesia. "Kita sudah berhasil memasukkan organ ekstra kedalam kampus melalui Peraturan Pemerintah (Permen) Ristekdikti. Kedepan HMI harus bisa memasukkan gagasan Youth Government," papar Saddam.