Penglolaan Sanitasi Pengaruhi Pola Hidup Sehat Masyarakat
Kepala Dinas Perkimtan Kota Bekasi, Jumhana Luthfi Hadiri Pertemuan Silahturami Pahlawan Air Sanitasi dan Prilaku Higiene Kota Bekasi di RW 05 Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur
BEKASI – Budaya bersih masyarakat dapat dilihat dari cara pengelolaan sanitasi, yang dilakukan lingkungan setempat. Sehingga kesehatan warga pun dapat terjamin dari pengelolaan sanitasi yang aman.
Berdasarkan data yang dimiliki USAID IUWASH PLUS, di Kota Bekasi masih ditemukan pembuangan sanitasi masyarakat yang tidak aman. Tentunya hal ini dapat mempengaruhi ekosistem air disekitar lingkungan warga.
Behavior Change Communication and Marketing Spesialist USAID IUWASH PLUS, Usye Umayah mengatakan, lebih kurang ada 7.000 Kepala Keluarga di Kota Bekasi yang masih belum memiliki sanitasi yang aman. Hampir kebanyakan, warga tersebut membuang kotorannya pada tempat yang tidak sesuai aturan, semisal di sungai, kali ataupun dikubur di dalam tanah.
Sebab itu, sejak satu tahun terakhir ini, USAID IUWASH PLUS bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bekasi untuk membentuk prilaku hidup sehat masyarakat dari pengelolaan sanitasi yang aman.
“Tugas kami hanya memberikan pendampingan kepada masyarakat, agar mereka dapat merubah pola hidup sehat dari pengelolaan sanitasi yang aman, mulai dari pemetaan masalah, hingga rembug warga untuk menyusun rencana kerja masyarakat. Tujuannya agar pemenuhan air minum dan sanitasi dari perilaku yang higiene,” ungkapnya, saat mengadakan pertemuan Silahturami Pahlawan Sanitasi di RW 05 Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kamis (27/9/2019).
Menurutnya, di RW 05 ini masih terdapat 250 warga yang belum memiliki sanitasi yang aman. Namun dengan inisiatif warga setempat, telah dibentuk Forum Peduli Sanitasi, yang memiliki rancangan program. Salah satu programnya adalah Gerakan Seribu Rupiah Siapkan Jamban Sehat atau GERSESI JAHAT.
“Jadi ini tugas bukan hanya dilakukan Pemerintah saja, tapi juga harus ada gerakan inisiatif yang dilakukan warga. Di RW 05 ini sudah ada gerakan seribu rupiah yang dilakukan warga untuk membantu warga miskin yang belum memiliki jamban. Dari gerakan tersebut, setip bulannya mereka bisa terkumpul Rp 13 Juta. Tentunya ini langkah warga yang patut kita apresiasi,” terang Usye.
Dari gerakan yang dilakukan warga RW 05 Kelurahan Margahayu, Usye mengatakan, sedikitnya ada 20 Kepala Keluarga yang telah menerima septic tank dari GERSESI JAHAT tersebut. Pasalnya, gerakan ini sudah berjalan lebih kurang selama lima bulan.
“Gerakan ini efektif juga, meskipun untuk membangun satu septic tank ini bisa menghabiskan anggaran mencapai Rp 4-5 Juta. Sebab itu, dalam program ini juga dibantu dari kemitraan para pihak seperti CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan dan pemerintah,” ujarnya.
Usye menjelaskan, selain dari CSR dan bantuan Pemerintah, USAID IUWASH PLUS juga memfasilitasi warga dengan lembaga keuangan mikro, apabila ingin memiliki septic tank.
“Jadi kalau warga miskin yang tidak mampu memiliki septic tank dibantu dari CSR dan Pemerintah, nah untuk warga yang mampu bisa kita hubungkan ke lembaga keuangan mikro, dengan melakukan kredit nantinya,” tutupnya.