Wali Kota Bekasi dan Menteri PUPR Akan Bahas Sungai Bekasi

  • Redaksi
  • 06 Januari 2020
  • 493
  • Bagikan:
Wali Kota Bekasi dan Menteri PUPR Akan Bahas Sungai Bekasi Wali Kota Bekasi terlihat membersihakan tumpukan kayu akibat banjir yang melanda permukiman warga Pondok Gede Permai

BEKASI – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi berjalan kaki meyusuri tanggul Kali Bekasi sepanjang delapan kilometer, yang dimulai dari Perumahan Depnaker, Kecamatan Bekasi Selatan hingga Pondok Gede Permai, Kecamatan Jatiasih.


Tingginya air yang melebihi tanggul pada perbatasan komplek perumahan warga, menyebabkan banjir tidak dapat terelakan. Padahal, tanggul sudah sangat tinggi, namun air rata-rata mencapai 30 centimeter diatas tanggul.


“Jadi rata-rata air itu tingginya melimpasi tanggul, jadi air itu diatas 30 centimeter dari level tanggul,” ujar Rahmat Effendi, di Komplek Pondok Gede Permai, Kecamatan Jatiasih, Senin (06/01/2020).


Rahmat mengaku, bahwa dirinya akan bertemu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam waktu dekat ini, untuk membahas sejumlah hal terkait persoalan banjir di wilayah perbatasan aliran Kali Bekasi—Sungai Cikeas—Sungai Cileungsi.


“Pak Menteri Basuki (Menteri PUPR) mau mengundang kita. Kamis lalu, beliau menelpon saya. Saya juga sudah menelpon Kepala BBWSCC untuk nanti bersama-sama mendesain persoalan ini. Katanya, akan digelontorkan anggaran dari APBN,” pungkasnya.


Rahmat berkeinginan, adanya penyedotoan Sungai Bekasi, apabila Kementerian PUPR mengalokasikan anggaran dari APBN. Sebab hal ini akan menjadi jangka panjang hingga 30 tahun mendatang.


“Kalau nanti digelontorkan oleh pak Menteri PU, berarti nanti dari Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi sampai laut, sebab Sungai Bekasi itu alirannya sampai ke Laut. Minimal disedot, air bisa mencapai 10 meter, Insya Allah kita aman sampai 20 hingga 30 tahun mendatang,” terangnya.


Sejak tahun 1976 Sungai Bekasi tidak pernah dilakukannya normalisasi atau pengerukan lumpur. Hal ini diakui Rahmat Effendi, yang merupakan Putra Asli Bekasi itu.


“Terakhir itu disedot, jadi udah kaya kalenan. Dari tahun 1976, tidak pernah ada revitalisasi, penyedotan atau yang lainnya sampai sekarang,” ungkapnya.



Disarankan untuk anda